Minggu, 13 Februari 2011

FF/ Rain in My Heart/ 2/ End

Author : Vizah Jaemin cassie a.k.a me
Tittle : Rain in My Heart chap 2 End
Cast :
-Han Hyo Rin a.k.a iema hanyongri 'ailomocozkaega cassiopeiabigeastkeepthefaith onlyfiveforeverfive

- Han hyo mi a.k.a Farah Ganesha chunsu 'Cassie'

- Kim Jaejoong



- Park yoochun

-Kim Junsu

-Jessica Jung



Annyeong....
Author come back ! mianhe lama… kemaren ada urusannd…
Pertama-tama… terima kasih kepada Tuhan YME atas otak kanan yang diberikan-Nya... kemudian terima kasih kepada abahku *read bokap* yang mana telah meminjamkan laptop tersayang beliau sehingga aku dapat merampungkan FF nie… tak lupa pula terima kasih ama readers...and then thanks to my beloved oppa-deul... terutama Jaejoong oppa… karena hanya dengan inget Jaepa… author bisa nulis ff romance kayak gini… GAK PERNAH KAYAK GINI AMA NAMJA MANAPUN SELAIN JAEJOONG OPPA… Bener-bener dehh... Jaepa mengalihkan duniaku~ *author ditimpuk cos banyak bacot*

Wokehhh~ kembali ke laptop… FF maksud.a huahhaahahaha

Happy readingggg \\(>0<)//
Keep RCL yakss…
RCL kalian sangat berarti bagi author… hehe


Hyo rin POV
Aku tidak betah di rumah. Apalagi melihat Jesssica dan Yoochun sunbae berduaan seperti itu. Tapi ada yang aneh... yang kurasakan bukanlah cemburu melihat mereka. Aku hanya masih jengkel dengan Jessica. Bukankah dari dulu aku menyukai Yoochun sunbae... kalau aku menyukainya kenapa perasaan cemburu melihatnya dengan Jessica sudah tidak ada? Dari kecil yoochun sunbae adalah teman bermainku dengan Hyo mi. Dia begitu baik.. aku terpesona dengannya. Dia selalu menjaga kami seperti adiknya sendiri. Aku sadar... dia hanya menganggapku sebagai adik, tak lebih... apa sekarang, aku juga menganggapnya sebagai kakak? Kenapa perasaanku berubah seperti ini? Atau dari awal perasaanku memang seperti ini?
Aku menghela nafas. Seseorang menepuk pundakku dari belakang.
”sunbae...” Jaejoong sunbae berdiri di belakangku dengan baju serba putih, baju seorang perawat.
”kamu mau ke rumah sakit?” tanyanya.
”nde...”
”kalau begitu kita searah, aku ada jadwal praktek hari ini...” ucapnya tersenyum. Jujur, senyumannya membuatku meleleh. Apa aku menyukainya? Aigo~ tidak boleh... walau bagaimanapun Hyo mi sudah menyukainya dari dulu.
Akhirnya kami bareng pergi ke RS.
”ja... apa kamu mau?” Jaejoong sunbae menawarkan sepotong roti kepadaku. Aku menggeleng dan tersenyum.
”Aiisshh... aku yakin kamu pasti belum makan, ambillah...” ucapnya memaksaku. Akhirnya aku mengambilnya. Kami duduk-duduk di taman untuk menyantap roti.
”sunbae... bolehkah aku bertanya sesuatu?” ucapku. Dia mengangguk.
”hmmphh... kenapa sunbae begitu baik terhadap umma, padahal tidak sedikit orang yang mengejeknya...”tanyaku sedikit lancang. Yahh... walaupun itu Cuma kebetulan karena dia lagi menjalani jadwal prakteknya... tapi aku benar-benar melihat ketulusannya merawat umma.
”aniyo~ aku senang bisa membantumu...” ucapnya tersenyum. Senyum itu lagi... senyum yang membuatku meleleh.
”gomawo... sunbae begitu baik...” berkali kali aku membungkukkan badanku. Dia terkekeh melihatku.
”nde... cheonmanayo...” aku bingung... kenapa aku bisa sesopan ini... sebelumnya sejak umma di rawat, aku selalu cuek dan sedikit kasar dengan orang lain. Tapi kali ini...
End Hyo rin POV

Author POV
Hyo rin mengendap-endap berjalan seraya mendorong kursi roda ummanya. Dan akhirnya ia berhasil membawa kabur ummanya. Dia sudah mengonntrak sebuah rumah sederhana seperti apa yang diinginkannya untuk tinggal bersama ummanya dan merawatnya. Dia begitu bahagia. Akhirnya mereka sampai ke sebuah rumah sederhana. Di dekatnya ada butik mewah yang terlihat sangat kontras dengan rumahnya.
*****
Siang itu sehabis Hyo rin pulang kuliah.
”andwe!!!” Hyo rin berteriak seraya berlari ke arah ummanya yang berada di halaman. Banyak anak kecil terlihat menyoraki ummanya.
”ahjuma gila... ahjuma gila...” begitu sorak mereka seraya terus melempar batu-batu kerikil. Hyo rin mencoba mengusir mereka. Tapi anak itu tidak bergeming. Malah makin banyak mereka melempar batu. Hyo rin menggenggam tangannya. Matanya memanas. Ia memeluk ummanya dan melindunginya dari hujaman-hujaman batu. Ummanya sudah pingsan. Padahal ummanya hanya terkena beberapa kerikil kecil. Ya... saat itu ummanya sangat shock. Tiba-tiba seorang anak melempar batu besar ke arah Hyo rin.
Brukkk!!! Hyo rin pingsan karena batunya mengenai kepalanya. Anak-anak itu segera kabur.
End Author POV

Hyo rin POV
Perlahan aku membuka mataku. Kepalaku terasa sakit. Kupijit kepalaku. Ada perban melingkarinya.Dimana aku? Aku mengingat-ingat kejadian tadi. Umma!!! Umma dimana?
”umma !!!” aku bangkit dari kasur. Namun bahuku disentuh seorang namja. Jaejoong sunbae? Aku masih shock.
”umma mana?” aku histeris.
”tenanglah... ummamu baik-baik saja” dia menenangkanku.
”tapi... umma tadi...” aku menghambur kepelukannya. Hatiku bagai disayat sembilu mengingat kejadian tadi. Mengingat umma disoraki dan dilempari batu. Aku menangis mengeluarkan semua emosiku. Sunbae hanya terdiam. Lalu perlahan ia membelai rambutku.
”ini semua salahku...” ucapku di sela tangisku. Sunbae hanya diam seraya terus membelai rambutku.
Aku berada di rumah sakit. Sunbae menceritakan semuanya. Aku dan umma ditolong oleh ji seok, kebetulan dia dari butik dekat rumahku. Dan kebetulan sunbae juga berada di sekitar sana. Dan sekarang umma ada di ruangan lain yang dijaga oleh ji soek. Umma masih pingsan karena shock. Dan disini, hanya ada aku dan sunbae. Aku mendesak sunbae mengantarkanku ke ruangan umma.
*****
Aku terpaku melihat umma dari pintu. Bukan umma, tapi empat orang yang menemaninya. Appa, ji soek, Hyo mi dan jessica Mereka kesini...
Perlahan aku mendekati mereka.
”mianhee... joengmal mianhe... kalau bukan karena aku umma tidak...” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku appa memelukku.
”aniyo~ appa yang salah... appa yang tidak mengerti perasaan kamu sehingga membuatmu kalut seperti ini...” aku terharu... appa memelukku... sudah lama aku tidak merasakan pelukannya...Hyo mi juga memelukku. Perlahan rasa benciku menghilang...
Aku berterima kasih kepada ji soek, karena dia lah yang menyelamatkan kami. Aku tau dia tidak sejahat yang kubayangkan. Mereka juga tidak menyalahkanku atas kejadian itu... sikap kalutku yang membawa umma kabur. Akhir-akhir ini mereka juga lebih sering menjenguk umma. Aku mengerti, mungkin memang lebih baik umma dirawat disana. Disana umma bisa lebih cepat sembuh karena ada terapinya. Kini, aku juga lebih periang dari bisanya. Aku mencoba menerima semuanya. Aku juga lebih akrab dengan hyo mi dan Jessica. Yahh walaupun tidak seakrab dulu lagi... Aku bersikap wajar... aku tidak bersikap dingin lagi kepada mereka. Mulai sekarang, aku akan belajar menerima ji soek... aku akan belajar walau sebenarnya sangat berat... dan menyakitkan bagiku...
*****
Malam ini... kami sekeluarga makan bersama. Ada yoochun sunbae, Junsu sunbae dan Jaejoong sunbae juga. Hyo mi dan Jessica yang mengajak mereka. Aku menghela nafas. Aku duduk berhadapan dengan Jaejoong sunbae dan Hyo mi. Di sebelah kananku ada ji soek dan appa.
Entah kenapa hatiku menjadi sakit melihat appa tersenyum lembut pada ji soek. Aku menelan ludah. Senyum itu... seharusnya untuk umma... Aku menepis pikiran jelekku ini. Aku mengalihkan pandangan. Hyo mi terlihat mengambilkan nasi untuk Junsu sunbae. Tangan Jaejoong sunbae tak sengaja menyentuh tangan Hyo mi. Aku panas dingin melihat Jaejoong sunbae tersenyum ke arah Hyo mi. Hyo mi akhirnya mengambilkan nasi untuknya. Arrrghh... kenapa pemandangan malam ini membuatku ingin marah. Kenapa aku seperti ini...
Dari tadi aku hanya diam mendengar gurauan-gurauan dari mereka. Mereka sangat menikmati makan malam kali ini. Apalagi Jessica, ia begitu memuji-muji Yoochun sunbae di depan appa. Yahhh... terserah saja... aku tidak cemburu lagi sekarang. Hyo mi terlihat lebih akrab dengan jaejoong sunbae. Sempat kulihat tatapan cemburu dari Junsu sunbae. Pandanganku bertemu dengan Jaejoong sunbae. Ia menatapku. Aku segera memalingkan pandanganku. Dan sekarang ji soek dan appa malah suap-suapan. Aku terus memperhatikannya. Kenapa appa begitu bahagia...
Plukkk
Sumpitku terjatuh. ”mianhee...” kupaksakan senyumku. Aku membungkuk ke bawah mengambil sumpit itu. Tanpa sengaja aku melihat appa pegangan tangan dengan ji soek. Arrrghhh.... aku benar-benar sakit hati dan marah melihatnya... aku tau aku harus belajar menerimanya... tapi... aku masih belum sanggup melihatnya... appa dan ji soek masih saja berpandangan. Bayangkan... seseorang yang bukan ummaku bermesraan dengan appaku...
Arrrrghhh... cukup sudah !!! aku menggenggam sumpitku kuat-kuat. Tak tau kenapa mataku mulai berkaca-kaca. Aku tertunduk hingga poniku menutupi mataku.
”Hyo rin-aah, kenapa dari tadi diam saja?” ucap Jessica lembut seraya menepuk bahuku.
”aniyo~ aku... aku sudah kenyang...” kupaksakan senyumku dan berlalu meninggalkan mereka.
”Hyo rin-ahh... mau kemana sayang?” ji soek memanggilku. Aku berhenti sejenak membelakangi mereka.
”mau keluar... nyari angin...”ucapku asal. Sekuat tenaga aku menahan ucapanku agar tidak ketus.
”jangan sampai larut malam... ” lanjut appa. Mereka tidak peka. Aku keluar karena melihat mereka yang seperti itu. Aku mengangguk dan segera berlalu.
Aku berjalan menyusuri gang sempit dekat rumahku yang merupakan jalan pintas menuju jalan raya. Suasananya agak gelap. Aku melamun seraya memikirkan kejadian tadi. Kenapa aku begitu sensitif.Apa karena hari ini aku tidak bertemu dengan umma makanya jadi badmood begini. Umma ada terapi hari ini, terapi khusus yang cukup lama.
Tap... Tap... aku baru menyadari ada seseorang berjalan di sampingku.
”Jaejoong sunbae...” dia tersenyum. Aku menelan ludah, kenapa dia selalu hadir tiba-tiba begini...
”kamu melamun lagi...makanya tidak menyadari kehadiranku dari tadi” ucapnya.
”ahh... mianhee...”aku bingung harus bilang apa. Dia memegang bahuku dan mengarahkanku kehadapannya. Deg... Deg...Deg
”Hyo rin-ahh... apa kamu masih tidak bisa menerimanya?” ucapnya. Ia tau perasaanku. Aku tersenyum.
”aniyo~ aku... aku hanya belum sepenuhnya menerima semua ini... aku masih belajar... aku yakin suatu hari nanti aku pasti dapat menerimanya...” jelasku.
”Hyo rin-ahh... tidak semua yang kita inginkan akan terjadi... semangatlah, aku akan selalu mendukungmu” ucapnya kembali tersenyum.
”gomawo sunbae... kamu begitu baik kepadaku... ” ucapku membalas senyumannya.
”cheonmanayo... apa kamu tau kenapa?”
”mwo?”
”karena dari awal aku menyukaimu...” Jantungku berdebar kencang mendengarnya. Aku terpaku. Benarkah itu?
”sunbae-ahh... jangan becanda seperti ini... bagaimana dengan Hyo mi, dia menyukaimu... dan aku yakin kamu pasti menyukainya” aku memalingkan badanku dan mencoba berlalu darinya. Kenapa aku ngomong seperti itu? Hwwaa!!! Aku menyesal mengucapkannya. Tiba-tiba ia mencegatku dan menahanku.
”Hyo rin-ahh... tatap aku...” ucapnya. Wajahku begitu dekat dengan wajahnya. Aku menelan ludah. Tatapannya begitu lembut dan membuatku benar-benar meleleh. Matanya bersinar. Aku semakin meleleh. Seakan-akan matanya mampu menenggelamkan perasaanku... menatapnya, hatiku menjadi damai... dan deg-degan tentunya.
”sarangheyo...” ucapnya membuat jantungku kembali berdentum.
”sunbae... aku...”
”sarangheyo... joengmal sarangheyo... bukan Hyo mi atau siapapun... Tapi Hyo rin... Hyo rin-ahh... joengmal saranghae...”ucapnya serius.
”aku... aku..”
”kamu tidak perlu menjawabnya sekarang... kutunggu kedatanganmu besok di taman jam 7 pagi. Kalau kamu datang... berarti kamu menerimaku... Ja... aku pergi dulu... aku akan menunggumu...”Sunbae tersenyum dan kemudian berlalu meninggalkanku yang terpaku.
End Hyo rin POV

Junsu POV
Jantungku berdegup kencang mendengar jawaban yang akan keluar dari Hyo mi. Setelah makan malam aku mengajaknya ke taman.
”oppa~ aku...” dia tertunduk. Aku menyentuh dagunya dan mengangkat wajahnya.
”joengmal saranghae...” ucapku membuat wajahnya merah merona.
”nado... nado saranghae...” ucapnya membuatku serasa melayang di surga. Aku langsung memeluknya erat... dan tak akan pernah kulepaskan...
End Junsu POV

Hyo rin POV
Aku begitu bahagia mendapat kabar itu. Pagi-pagi sekali aku pergi menemui umma. Kata dokter, Kalau terapi khusus umma dapat berjalan lancar, dalam waktu beberapa bulan umma akan segera sembuh. Appa dan ji soek juga terlihat bahagia. Terima kasih Tuhan....
Setelah beberapa jam menemani umma, appa dan ji soek pamit pulang. Aku kembali menjaga umma. Aku menyisir rambutnya, aku memberinya makan.
Aku menghela nafas. Sudah jam 9 pagi. Mianhe sunbae... sebenarnya aku juga menyukaimu. Aku benar-benar menyukaimu... bukan menyukai Yoochun sunbae. Saat aku bersama Yoochun sunbae jantungku tidak pernah berdetak kencang... aku hanya merasa nyaman berada di dekatnya.Itu karena dia selalu berperan sebagai kakak kepada kami. Tapi... bersamamu benar-benar membuatku bahagia, membuatku kembali pulih... membuat perasaanku seakan melayang... membuat jantungku berpacu begitu cepat... membuatku meleleh dengan tatapanmu...membuatku tak berhenti memikirkanmu,,, bersamamu... membuatku menjadi yeoja paing bahagia di dunia ini... Selama ini... aku salah menilai cinta. Sekarang,,, aku sudah mengerti... sunbae-ahh... gomawo sudah menyadarkanku... tapi, aku merasa... hyo mi lah yang pantas untukmu. Dia cantik dan periang...Dia sangat menyukaimu, Dia lebih baik daripada aku, aku bingung,,, kenapa kamu bisa menyukaiku? Tapi jujur... aku begitu bahagia mengetahuinya. aku tidak ingin menyeretmu dalam kesedihanku yang berlebihan ini.
End Hyo rin POV

Jaejoong POV
Kulirik jam tanganku, sudah jam 12 siang. Hyo rin-ahh... aku akan terus menunggumu... Aku masih duduk di taman menunggunya. Aku yakin... dia pasti datang.
Aku benar-benar menyukainya... sejak pertama kali melihatnya di kampus. Melihatnya sendirian tanpa teman... membuatku ingin melindunginya. Awalnya kukira aku hanya merasa iba. Namun entah kenapa aku selalu memikirkannya... setiap saat... setiap detik... hatiku tak pernah lepas darinya... aku benar-benar membutuhkannya... joengmal sarangheyo... Hyo rin... Walaupun Hyo rin dan Hyo mi anak kembar, aku tidak merasakan perasaan semacam ini kepada Hyo mi. Sekarang... aku tidak bisa berpaling kepada yeoja lain... karena hanya ada Hyo rin di hatiku...
Aku menghela nafas. Inikah jawabanmu hyo rin... aku berjalan lemas kembali ke rumahku. Sudah jam 9 malam. Aku tidak tau kenapa aku segigih ini menunggunya kalau akhirnya dia tidak datang... hyo rin-ahh.. tahu kah kau... aku benar-benar tak bisa hidup tanpamu. Hari mulai hujan... aku harus pulang
******
Aku berjalan pelan. Aku melamun... kubiarkan hujan membasahi tubuhku... Aku tidak peduli lagi dengan apapun... Dipikiranku sekarang hanya ada Hyo rin. Malam ini begitu dingin. Di tambah lagi hujan dan petir yang menggelegar. Ternyata... hujan begitu mengerti perasaanku. Aku terpaku melihat seseorang di depan teras rumahku. Dia tertidur, badannya basah kuyup. Aku melongo... Hyo rin !!! aku langsung membawanya masuk ke rumahku. Kebetulan umma dan appa tidak ada di rumah, mereka pergi ke Jepang karena urusan bisnis.
End Jaejoong POV

Author POV
Flashback
Hyo rin terus berlari di tengah hujan, Ia berlari ke rumah Jaejoong. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Ternyata... Hyo mi sudah resmi jadian dengan Junsu, ia baru mengetahuinya. Ia sangat menyesal karena telah mengabaikan jaejoong Hyo rin menunggu Jaejoong membukakan gerbangnya. Ia pikir Jaejoong pasti marah dengannya sehingga tidak membukakan pintu gerbangnya. Ia terus menunggu dan menunggu. Matanya sudah sembab karena menangis. Ia begitu menyesali perbuatannya. Sudah hampir 2 jam ia terus menunggu di bawah hujan. Akhirnya Hyo rin memanjat pagar jaejoong.
”aawww...” ia merintih. Besi pagar melukai kakinya. Darah segar pun mengalir. Hyo rin tidak peduli. Ia beranjak ke teras rumah Jaejoong. Ia meringkuk di sudut teras itu hingga akhirnya terlelap.
End of Flashback
End of Author POV

Jaejoong POV
Aku menggendong Hyo rin masuk ke kamarku. Ku rebahkan dia. Dia masih terlelap. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Haruskah aku melepas bajunya dan mengeringkan badannya. Aigo~ aku menepis pikiranku. Aku duduk di sampingnya. Mianhe...karena menungguku kamu jadi seperti ini... Aku membelai rambutnya, kutatap wajahnya... ada sesuatu yang kuat kurasakan saat melihatnya... sesuatu yang membuatku begitu tenang dan damai... sesuatu yang membuatku terhanyut ke dalamnya... hanya dia yang sanggup membuatku seperti ini...sanggup membuatku terus memikirkannya setiap saat, sanggup membuatku begitu bahagia sekaligus degdegan kalau berada dekat dengannya. Dia tidak secantik artis-artis Korea, kalaupun aku ingin memilih yeoja yang cantik... aku sudah mengejar-ngejar primadonna kampus dari dulu, atau aku akan memilih hyo mi yang lebih bisa berdandan daripada Hyo rin... Aku menyukainya karena dia adalah Hyo rin...jujur... bagiku dia begitu manis... entah kenapa aku berpikiran seperti itu...Aku benar-benar mengharapkannya terus berada disisiku saat ini. Andweee... aku melirik kakinya yang terluka, darah beku menghiasinya. Aku begitu panik dan segera membersihkannya. Perlahan Hyo rin terbangun. Ia mengucek-ngucek matanya. Aku hanya terpaku melihatnya.
”sunbae-ahh... mianhee...” ucapnya langsung memelukku seraya menangis
”gwanchana... aku yang harusnya minta maaf kepadamu... aku membiarkan kamu menunggu seperti ini...kumohon berhentilah menangis seperti ini” ucapku seraya menyeka air matanya. Aku memeluknya erat. Aku mencium rambutnya.
”aniyo~ aku yang salah...” ucapnya sesenggukan. Aku tersenyum. Aku melepaskan pelukanku dan menyeka air matanya dengan lembut.
”sunbae-ahh... mianhee... kamu begitu baik padaku... aku malah menyakiti hatimu...” ucapnya terbata. Aku menggelengkan kepalaku.
”aniyo~ jangan berpikir seperi itu...” aku menyentuh wajahnya yang basah.
”sudahlah... keringkan badanmu dulu...”
Beberapa menit kemudian...
Setelah aku dan Hyo rin mandi karena badan kami basah kuyup. Aku mengobati luka kakinya.
”Aiisshh... kamu ceroboh sekali... kenapa pakai manjat pagar segala... jadinya kayak gini kan...”omelku. Dia tersenyum lembut membuat jantungku berdegup kencang.
”ini tidak seberapa dengan pengorbananmu menungguku dari jam 7...mianhe, sunbae pasti marah padaku” ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tertegun dan langsung memeluknya.
”apa kamu tau... lukamu ini benar-benar membuatku panik... aku tidak ingin melihatmu terluka... dan lagi, mana mungkin aku marah padamu... aku tidak bisa marah padamu setiap kali melihatmu” ucapku seraya memeluknya lebih erat.
”oppa~ sarangheyo... joengmal saranghae yongwonhi~” ucapnya. Ia mengalihkan pembicaraan. Tapi jujur... hatiku begitu bahagia mendengarnya. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana bahagianya perasaanku saat ini.
”nado... saranghae...jagi~aa” aku mencium keningnya. Terima kasih Tuhan... Aku diizinkan bersamanya.
End Jaejoong POV

END***

Kyaaaa !!!!!
Author yang ga b.pengalaman ini... kenapa bisa nulis romance kayak gini yakkk...
*kekekekekekekekeke* evil smile...
Yahhh... tak lain tak bukan... ini berkat Jaejoong oppa...

Oppa-deul....SARANGHAEEEEEEE !!!!!
Gomawo~ dah bikin ku ngeyel seindah ini... wkwkwkwkwk

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar